Sabtu, 14 Maret 2015

Tulisan 3 (Etika dan Profesionalisme TSI)


Jenis-Jenis Ancaman (Threats) Melalui IT

1. Unauthorized Access to Computer System and Service
“Pelaku” dari tipe kejahatan ini masuk atau menyusup ke dalam sistem Jaringan komputer “korban”. “Pelaku” masuk tanpa ijin sama sekali dari pemilik atau Sistem tersebut. Setelah mereka masuk ke dalam sistem Jaringan “Korban”, “pelaku” biasanya menyabotase (mengganti atau mengubah data) atau melakukan pencurian data dari Jarinagn yang mereka masukin. Tapi tidak sedikit juga “pelaku” yang cuma melihat-lihat ke dalam sistem tersebut atau hanya untuk mencari kelemahan dari Sistem Jaringan Tersebut ( Setelah mereka mengetahui kelemahan Sistem tersebut, mereka langsung menghubungi Admin sistem tersebut untuk mengganti keamanan sistem mereka).

2. Illegal Contents
“Pelaku” dari tipe kejahatan ini melekukan kejahatan dengan cara mengganti dan menambah data yang tidak seharusnya kedalam sistem tersebut. Biasanya berita yang mereka masukan tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka kadang juga memasukan berita bohong atau fitnah, hal-hal yang pornografi atau pemuatan suatu informasi yang tidak sesuai dengan keadaan sistem tersebut.


3. Data Forgery
“Pelaku” kejahatan ini biasanya melakukan kejahatan dengan memalsukan data-data dokumen penting yang terdapat dalam sistem yang mereka susupi. Data-data penting yang mereka palsukan dibuat sebagai scriptless melalui jaringan Internet.

4. Cyber Espionage
“Pelaku” kejahatan ini memanfaatkan Jaringan Internet untuk melakukan kegiatan mata-mata terhadap pihak lain atau saingannya. “Pelaku” masuk ke dalam Sistem “Korban”, kemudian melihat atau meng-copy data yang terhadap di dalam Sistem sang “korban”.

5. Cyber Sabotage and Extortion
“Pelaku” dalam kejahatan ini melakukan kejahatannya dengan membuat gangguan, perusakan atau penghancuran terhadap suatu data yang terdapat dalam sistem yang disusupin oleh “pelaku” melalui program komputer atau jaringan komputer yang terhubung oleh internet. “Pelaku” biasanya menyusupkan logic bomb, virus komputer atau program komputer yang jika dibuka akan mentrigger virus atau file perusak tersebut.
Jika suatu program atau data yang ada di sistem terkena virus, maka program atau data tersebut tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.

6. Offense against Intellectual Property
“Pelaku” kejahatan ini mengincar terhadap hak atas kekayaan intelektual yang dimiliki oleh “korban”. “Pelaku” biasanya meniru atau menyiarkan sesuatu yang sebenarnya sudah lebih dulu dilakukan oleh orang lain.

7. Infringements of Privacy
“Pelaku” dalam kejahatan ini biasanya melakukan kejahatannya dengan cara mengambil data pribadi seseorang yang tersimpan secara computerized, yang apabila dilakukan akan merugikan materiil maupun immateriil. Kejahatan seperti ini biasanya mengincar nomor kartu kredit, nomor PIN ATM, ataupun data kesehatan dari “korban”.


Contoh Kasus Computer Crime atau Cyber Crime

1. Deface
Istilah ini biasa disebut Membajak Situs Web bagi orang awam. Cyber crime biasa melakukan pergantian halaman web yang dimasuki. Pembajakan ini dilakukan dengan menembus lubang keamanan yang terdapat di dalam web tersebut.

2. Pencurian Kartu Kredit
Cyber crime adalah kejahatan yang paling merugikan “korban”. Karena “pelaku” kejahatan dari cyber crime ini biasanya mencuri data kartu kredit “korban” dan memakai isi dari kartu kredit “korban” untuk kepentingan pribadi “korban”.

3. Virus
Kejahatan ini dilakukan dengan cara memasukan virus melalui E-mail. Setelah E-mail yang dikirim dibuka oleh “korban” maka virus itu akan menyebar ke dalam komputer dari sang “korban” yang menyebabkan sistem dari komputer korban akan rusak.


Sumber :





Rabu, 11 Maret 2015

Tulisan 1 (Etika dan Profesionalisme TSI)

Pengertian Etika

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata ‘etika’ yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan.

Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).

Etika merupakan suatu ilmu yang membahas perbuatan baik dan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Dan etika profesi terdapat suatu kesadaran yang kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukan.

Etika berfungsi sebagai sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan pelbagai moralitas yang membingungkan. Etika ingin menampilkanketrampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis.

Pengertian Profesi

Profesi adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris "Profess", yang dalam bahasa Yunani adalah "Επαγγελια", yang bermakna: "Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen".

Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Profesi juga biasa didefinisikan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menafkahi diri dan keluarganya dimana profesi tersebut diatur oleh etika profesi.

Contoh profesi adalah pada bidang hukum, kedokteran, keuangan, militer,teknik dan desainer. Seseorang yang memiliki suatu profesi tertentu, disebut profesional. Walaupun begitu, istilah profesional juga digunakan untuk suatu aktivitas yang menerima bayaran, sebagai lawan kata dari amatir. Contohnya adalah petinju profesional menerima bayaran untuk pertandingan tinju yang dilakukannya, sementara olahraga tinju sendiri umumnya tidak dianggap sebagai suatu profesi.

Sedangkan pengertian profesi menurut De George adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian”. Contohnya : artis termasuk dalam bidang profesi kenapa karena dalam pekerjaan ini seseorang dituntut untuk mempunyai keahlian dalam bidang seni atau contoh yang lain seperti dalam bidang IT dimana seseorang dituntut ahli dalam bidang komputer.


Ciri Khas Profesi

Profesi memiliki ciri khas diantaranya adalah :

·         Suatu bidang pekerjaan yang terorganisir dan jenis intelektual yang terus berkembang dan diperluas
·         Suatu teknik intelektual
·         Penerapan praktis dari teknik intelektual pada urusan praktis
·         Suatu periode panjang untuk pelatihan dan sertifikasi
·         Beberpa standard an pernyataan tentang etika yang dapat diselenggarakan
·         Kemampuan untuk kepemimpinan pada profesi sendiri
·         Asosiasi dari anggota profesi yang menjadi suatu kelompok yang erat dengan kualitas komunikasi yang tinggi antara anggotanya
·         Pengakuan sebagai profesi
·         Perhatian yang professional.

Tata Laku Profesi

Praktek berprofesi berarti melaksanakan janji komitmen bagi profesional, untuk berkarya sebaik-baiknya melalui hubungan antara dia dan masyarakat yang membutuhkan keahliannya dan mempercayainya.

Kaidah tata laku profesi menjamin terhindarnya tindakan kesewenang-wenangan yang didasari dari peraturan/perundangan tentang profesi. Hal ini mengatur seluk beluk interaksi dalam praktek berprofesi, untuk tujuan sebesar-besarnya memperoleh hasil karya yang terbaik dan jaminan perlindungan kepada masyarakat. Interaksi dalam hubungan kerja ini merupakan hal yang terpenting dalam praktek berprofesi. 


Etika Berprofesi di Bidang IT

Etika berprofesi di bidang teknologi informasi dimana pemrograman komputer membutuhkan sebuah kode etik, dan kebanyakan dari kode-kode etik ini disadur berdasarkan kode etik yang kini digunakan oleh perkumpulan programmer internasional. Tujuan adanya kode etik profesi adalah prinsip-prinsip umum yang dirumuskan dalam suatu profesi akan berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan perbedaan adat, kebiasaan, kebudayaan, dan peranan tenaga ahli profesi yang didefinisikan dalam suatu negara tidak sama. Kode etik seorang programmer adalah sebagai berikut :

·         Seorang programmer tidak boleh membuat atau mendistribusikan Malware.
·         Seorang programmer tidak boleh menulis kode yang sulit diikuti dengan sengaja.
·         Seorang programmer tidak boleh menulis dokumentasi yang dengan sengaja  
·         Seorang programmer tidak boleh menggunakan ulang kode dengan hak cipta
·         Tidak boleh mencari keuntungan tambahan dari proyek yang didanai oleh pihak kedua
·         Tidak boleh mencuri software khususnya development tools.
·         Tidak boleh menerima dana tambahan dari berbagai pihak eksternal dalam suatu proyek
·         Tidak boleh menulis kode yang dengan sengaja menjatuhkan kode programmer lain
·         Tidak boleh membeberkan data-data penting karyawan dalam perusahaan.
·         Tidak boleh memberitahu masalah keuangan pada pekerja dalam pengembangan suatu
·         Tidak pernah mengambil keuntungan dari pekerjaan orang lain.
·         Tidak boleh mempermalukan profesinya.
·         Tidak boleh secara asal-asalan menyangkal adanya bug dalam aplikasi.
·         Tidak boleh mengenalkan bug yang ada di dalam software yang nantinya programmer
·         Terus mengikuti pada perkembangan ilmu komputer. 

Pada umumnya, programmer harus mematuhi Golden Rule yaitu "Memperlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan". Jika semua yang bekerja dibidang IT mematuhi peraturan ini, maka tidak akan ada masalah dalam komunitas.



Sumber:


Jumat, 20 Juni 2014

RESENSI

Definisi Resensi

Resensi berasal dari bahasa latin yaitu reveidere atau recensere, yang mengandung arti melihat kembali, menimbang atau menilai. Tindakan merensensi buku berarti memeberikan penilaian, ungkapan, kembali isi buku, membahas atau menkritik buku.

Resensi dibuat oleh seorang resensator. Resensi dibuat untuk memberi penilaian atas suatu buku, film, atau karya seni yang lain untuk memberitahu orang lain apakah hal yang diresensi tersebut layak atau tidak untuk dibaca, ditonton, atau didengar, dan lain-lain.

Apabila diklasifikasikan, ada tiga bi¬dang garapan resensi, yaitu (a) buku, baik fiksi maupun nonfiksi; (b) pementasan seni, seperti film, sinetron, tari, drama, musik, atau kaset; (c) pameran seni, baik seni lukis maupun seni patung.

Tujuan Resensi

Sebelum meresensi, hendaknya Resensor memahami tujuan resensi. Apa sebenarnya tujuan resensi buku? Yang jelas, kehadiran kolom resensi buku mempunyai tujuan tertentu. Jika dicermati, pemuatan resensi buku sekurang-kurangnya mem¬punyai lima tujuan.
Kelima tujuan itu sebagai berikut.

1. Memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang tampak dan terungkap dalam sebuah buku.
 

2. Mengajak pembaca memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku.

3. Memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.
 

4. Memberikan informasi kepada pembaca tentang (a) siapa pengarangnya? mengapa ia menulis buku itu? (b) apa pernyataannya? (c) bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis karya pengarang yang sama? (d)bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis yang dihasilkan oleh pengarang-pengarang lain?

5. Untuk segolongan pembaca resensi yang (a) membaca agar mendapatkan bimbingan dalam memilih buku-buku (b) setelah membaca resensi berminat untuk membaca atau mencocokkan seperti apa yang ditulis dalam resensi;(c) tidak ada waktu untuk membaca buku kemudian mengandalkan resensi sebagai sumber informasi.


B. Dasar-Dasar Resensi

Sebelum meresensi, Resensor perlu memahami dasar-dasar resensi. Apa sajakah dasar-dasarnya?
1. Resensor memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku itu. Tujuan pengarang dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku. Kemudian dicari apakah tujuan itu direalisasikan dalam seluruh bagian buku.

2. Resensor menyadari sepenuhnya tujuan meresensi karena sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat.

3. Resensor memahami betul latar belakang pembaca yang menjadi sasarannya: selera, tingkat pendidikan, dari kalangan macam apa asalnya, dan sebagainya. Atas dasar itu, resensi yang dimuat surat kabar atau majalah tidak sama dengan yang dimuat pada surat kabar atau majalah yang lain.

4. Resensor memahami karakteristik media cetak yang akan memuat resensi. Setiap media cetak ini mempunyai identitas, termasuk dalam visi dan "misi". Dengan demikian, kita akan mengetahui kebijakan dan resensi macam apa yang disukai oleh redaksi. Kesukaan redaksi ini akan tampak pada frekuensi jenis buku yang dimuat.


C. Nilai Buku

Meresensi buku pada hakikatnya melakukan penilaian ter¬hadap buku. Menilai berarti mengulas, mempertimbangkan, mengkritik, dan menunjukkan kelebihan-kelebihan serta kekurangan-kekurangan buku dengan penuh tanggung jawab. Dengan penuh tanggung jawab artinya, mengajukan dasar-dasar atau argumen terhadap pendapatnya, dan kriteria-kriteria yang dipergunakan untuk membentuk pendapatnya itu, serta data yang meyakinkan (dengan menyajikan kutipan-kutipan yang tepat dan relevan).

Akan tetapi, sasaran penilaian (organisasi, isi, bahasa, dan teknik) itu sering sulit diterapkan secara mekanis. Suatu unsur, sering lebih mendapat tekanan daripada unsur yang lain. Yang penting, tidak menggunakan salah satu unsur untuk menilai keseluruhan buku. Nilai buku akan lebih jelas bila dibandingkan dengan karya¬karya sejenis, baik yang ditulis oleh pengarang itu sendiri maupun yang ditulis oleh pengarang lain.

D. Bahasa Resensi

Bahasa resensi biasanya bernas (singkat-padat), tegas, dan tandas. Pemilihan karakter bahasa yang digunakan disesuaikan dengan karakter media cetak yang akan memuat dan karakter pembaca yang akan menjadi sasarannya. Pemilihan karakter bahasa berkaitan erat dengan masalah penyajian tulisan. Misalnya, tulisan yang runtun kalimatnya, ejaannya benar, tidak berpanjang lebar (bertele-tele), dan tidak terlalu banyak coretan, atau bekas hapusan.

Di samping itu, penyajian tulisan resensi bersifat padat, singkat, mudah ditangkap, menarik, dan enak dibaca. Tulisan yang menarik dan enak dibaca artinya enak dibaca baik oleh redaktur (penanggung jawab rubrik) maupun pembaca. Kita perlu membiasakan diri membaca resensi itu dengan menempatkan diri sebagai redaktur atau pembaca. Jadikanlah diri kita seolah-olah sebagai redaktur atau pembaca. Dengan cara ini, emosi kita sebagai penulis bisa ditanggalkan.

E. Kelebihan Resensi

1. Tidak basi

Bila dibandingkan dengan tulisan lain, seperti berita, artikel, dan karangan khas (features) maka resensi lebih tahan lama. Artinya, andaipun resensi dikembalikan oleh redaksi, resensi itu masih dapat dikiriin ke media lain. Demikian pula buku yang diresensi tidak harus buku yang baru terbit. Kita boleh meresensi buku yang terbit setahun yang lalu, asalkan buku itu belum pernah dimuat di media yang akan dituju. Meskipun demikian, pada umumnya buku yang diresensi, buku-buku yang baru terbit.

2. Menambah wawasan

Informasi dari buku sangat berguna untuk menambah wawasan berpikir dan mengasah daya kritis. Kita juga bisa menilai apakah buku itu bermutu atau tidak.

3. Keuntungan financial

Kalau resensi kita dimuat, kita tidak menerima honor dari redaksi saja, tetapi juga dari penerbit. Ini kalau fotokopi resensi itu dikiriin ke penerbit, minimal buku baru yang dapat kita buatkan resensi (jika penerbit tidak bersedia memberi honor). Biasanya penerbit akan memberi beberapa buah buku baru untuk diresensi, kalau resensi buku kita sering dimuat di media cetak. Jadi, lumayan koleksi buku kita bertambah tanpa harus membeli.

Pola Tulisan Resensi

Ada tiga pola tulisan resensi buku, yaitu meringkas, men¬jabarkan, dan mengulas. Meringkas (sinopsis) berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. Sebuah buku biasanya menyajikan banyak persoalan. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas. Untuk itu, perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis dalam suatu uraian yang bernas.

Menjabarkan (deskripsi) berarti menjabarkan atau mendeskripsikan hal-hal menonjol dari sinopsis yang sudah dilakukan. Bila perlu bagian-bagian yang mendukung uraian itu dikutip. Mengulas berarti menyajikan ulasan sebagai berikut:

1. Isi pernyataan atau materi buku yang sudah dipadatkan dan dijabarkan
2. organisasi atau kerangka buku; 
3. bahasa; 
4. kesalahan cetak;
5. membandingkan (komparasi) dengan buku-buku sejenis,
6.menilai, mencakup kesan Resensor terhadap buku,

Urutan pola meringkas, menjabarkan, dan mengulas itu dapat pula dipertukarkan. Kita bisa langsung mengulas, menjabarkan, dan meringkas. Misalnya, kita mulai dari kesan terhadap buku, membandingkan, lalu masuk ke bagian meringkas. Memadatkan persoalan utama atau bagian terpenting dalam uraian yang singkat dan jelas. Kemudian, kita perlu menjabarkan bagian-bagian ter¬penting dari sinopsis. Atau kita mulai dari menjabarkan, meringkas, dan mengulas. Namun, satu hal terpenting, isi pernyataan dalam buku itu dipahami terlebih dahulu.

G. Langkah-Langkah Meresensi Buku

Langkah-langkah meresensi buku sebagai berikut.
 
1. Penjajakan atau pengenalan terhadap buku yang diresensi.
 
2. Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensif, cermat, dan teliti. Peta permasalahan dalam buku itu perlu dipahami secara tepat dan akurat.
3. Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data.

4. Membuat sinopsis atau intisari dari buku yang akan diresensi.
 
5. Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasar-dasar dan kriteria-kriteria yang kita tentukan sebelumnya.

H. Unsur-Unsur Resensi

l. Membuat Judul Resensi

Judul resensi yang menarik dan benar-benar menjiwai seluruh tulisan atau inti tulisan, tidak harus ditetapkan terlebih dahulu. Judul dapat dibuat sesudah resensi selesai. Yang perlu diingat, judul resensi selaras dengan keseluruan isi resensi.

2. Menyusun data buku

Data  buku biasanya disusun sebagai berikut:

• judul buku
• pengarang
• penerbit;
• tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa); 
• tebal buku;
• harga buku (jika diperlukan). 

3. Membuat pembukaan (lead) Pembukaan dapat dimulai dengan hal-hal berikut:
 

• memperkenalkan siapa pengarangnya, karyanya berben¬tuk apa saja, dan prestasi apa saja yang diperoleh;
• membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis, baik oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain;
 
• memaparkan kekhasan atau sosok pengarang;
• memaparkan keunikan buku; 
• merumuskan tema buku;
• mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku; 
• memperkenalkan penerbit;
• membuka dialog.

4. Tubuh atau isi pernyataan resensi buku. Tubuh atau isi pernyataan resensi biasanya memuat hal-hal di bawah ini:

• sinopsis atau isi buku secara bernas dan kronologis;
 
• ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya; 
• keunggulan buku;
• kelemahan buku;
• rumusan kerangka buku;
• tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit); 
• adanya kesalahan cetak.


5. Penutup resensi buku

Bagian penutup, biasanya berisi buku itu penting untuk siapa dan mengapa karangan ini dibuat,
Judul resensi; Data buku; Pendahuluan; Isi pernyataan;


Contoh Resensi

Kiat-kiat menjadi perempuan yang cerdas

Judul Buku           : Cewek Smart
Pengarang             : Ria Fariana
Penerbit                : Gema Insani
Kota terbit            : Jakarta
Tahun terbit          : 2008
Tebal                     : 200 halaman


            Buku ini dirancang untuk membantu remaja perempuan untuk dapat menyikapi permasalahan yang ada disekitar kita. Buku ini juga membahas bagaimana menjadi seorang perempuan yang cantik, cerdas dan  memiliki kepribadian yang baik sesuai syariat islam.

Perempuan yang cerdas sesuai syariat adalah seseorang yang dengan kecerdasannya akan semakin menambah keimanannya. Perempuan cerdas itu tidak diukur dari seberapa tinggi IP-nya. Tetapi bagaimana ia mampu menyelesaikan seluruh permasalahan dalam kehidupannya dengan satu tolak ukur tertentu yang bertanggung jawab.

Saat ini, banyak orang beranggapan bahwa perempuan  yang istimewa adalah wanita yang cantik di wajah. Padahal sikap dan kecerdasan mereka belum tentu bisa menyeimbangi kecantikan mereka. Mulai dari masalah cowok sampai maslah buruh perempuan akan dibahas di buku ini.

Secara umum, buku ini berisi dasar-dasar menjadi perempuanShalihah. Bagaimana sih menjadi perempuan yang cerdas? Apa perlu perempuan itu ganjen dan centil? Kita nggak perlu pacaran loh.Semuanya bermuara pada sejumlah nasihat sederhana dan praktis yang membantu untuk menyikapi permasalahan.

Buku ini mampu menyadarkan remaja perempuan untuk bersikap sesuai syariat islam. Dengan membaca buku ini, kamu dapat merenungkan mana yang baik dan benar. Di buku ini banyak bertabur kata-kata bijak seperti “Islam mendorong perempuan untuk cerdas agar ia tidak mudah dibodohi oleh siapa pun”.

Serta kata-kata motivasi seperti “Kamu cewek yang tegar, buktikan! Jangan cuma tampilan aja yang tomboy, tapi ketika menghadapi cobaan hidup, eh melempem.”

Keunggulan buku ini dapat menuntun remaja perempuan  ke jalan yang benar sesuai syariat islam. Bahasa buku ini mudah dipahami, segar dibaca oleh remaja perempuan karena bahasanya populer serta gaul. Cover bukunya menarik dengan kartun yang lucu, penuh warna yang menambah nuansa istimewa buku ini.

Dibandingkan dengan buku remaja lain tentang renungan wanita, buku ini mempunyai kelebihan yaitu membukakan mata kita tentang peristiwa yang sering terjadi disekitar kita, memberikan solusi, motivasi, dan praktis serta saling mengkaitkan tentang hukum-hukum syariat islam. Buku ini dilengkapi ilustrasi gambar yang lucu pada setiap bab untuk mendukung isi tulisan. Serta layout tulisan sunggguh enak dibaca dan tidak membosankan.

Kelemahan buku ini sangat sedikit penjualannya dan gambar ilustrasi bewarna hitam putih. Dapat disimpulkan bahwa  jangan bilang kamu cewek cerdas kalau belum baca buku ini! Hanya satu saran yang tepat, segera miliki buku ini karena buku ini menawarkan langkah-langkah menjadi perempuan yang cerdas sesuai syariat Islam.



http://luthfinurazizah.blogspot.com/
http://syahronisymanfh.blogspot.com/
http://anbuniklen.blogspot.com/

Mengenai Saya

Foto saya
Menempuh jalan menuju Allah

Pengikut